susah jadi baik

20 Apr 2010

Memang susah untuk menjadi orang baik,karena sifat manusia berbeda-beda. Menjadi baik pun kadang motifnya beragam. Atau, mau berbuat baik tapi hati yang tidak ikhlas-pun menjadi tak berarti apa-apa. Tapi jika ingin ikhlas berbuat baik tapi menjadi susah,ini yang lebih repot lagi..

Akhir tahun lalu, 31 Desember 2009, jam 7 malam saya masih di gym untuk berolahraga,kebetulan saat itu sepi,maklumlah hari terakhir untuk tahun 2009,semua sibuk dengan acara malam tahun baru. Sesaat sebelum pulang, saya melihat Bujang, sekuriti disitu yang sedang muram. Jabatannya sekuriti,tapi kerjaannya serabutan, dari ganti air kolam renang, isi air minum sampai menghidupkan genset. Kemudian saya tanya mengapa, katanya gaji belum dibayar,biasanya selalu telat,padahal mau malam tahun baruan. Lalu saya beri uang 50ribu.

Hari-hari selanjutnya biasa saja,namun suatu hari Bujang menghampiri ketika saya hendak pulang,katanya belum gajian,minta uang rokok. Wah saya tidak suka dengan sikap seperti ini. Seperti kata-kata yang sering saya dapat,jangan jadi kebiasaan. Padahal dengan orang lain dia tidak pernah meminta-minta. Akhirnya saya jawab tidak ada,kalau mau rokok bisa saya bagi. Akhirnya diambilnya marlboro-ku 1 batang. Di perjalanan pulang, terlintas penyesalan tentang pemberian uang itu,namun bad mood seperti itu bisa diatasi dengan pikiran-pikiran positif, bahwa memang niatnya ikhlas sesekali untuk menyenangkan orang lain selagi kita sanggup,tak ada yang salah bukan.

Namun kejadian itu kembali berulang ketika tanggal tua,yang membuat saya tidak nyaman lagi untuk ke tempat itu. Alasan apapun bisa dibuat untuk menolak, namun hal tersebut menjadi sangat mengganggu. Terakhir bulan kemarin, dia menghampiri lagi dengan mengatakan ibunya sakit malaria,tidak ada uang untuk menebus obat. Saya tidak tahu apakah dia berbohong atau memang benar-benar butuh uang, dan saat itu saya memutuskan untuk menjawab tidak bawa uang dan saya sarankan untuk berobat ke dokter Irianto, resep obat malaria dari dokter itu cukup murah, sekitar 6 ribuan rupiah kalau tidak salah. Sepanjang perjalanan pulang, pikiran menjadi kacau, bagaimana jika ibunya benar-benar sakit..apakah saya sejahat itu? Yang pasti jika kejadian malam tahun baru itu tidak pernah ada,kejadian seperti ini juga tidak akan pernah ada.

Minggu kemarin, di sofa ruang keluarga rumah tercium bau bangkai tikus, rupanya ada tikus mati di dalam sofa tersebut,lalu saya dan kakak mengeluarkan sofa itu dan membuang tikus tersebut. Besok paginya ibu menyuruh membawa sofa tersebut ke tukang jok untuk di tambah busa dan ganti kulit jok-nya. Kondisi sofa itu sudah termasuk uzur, sudah belasan tahun. Lalu saya putuskan untuk membeli yang baru saja. Lagipula ayah dan ibu paling sering ketiduran di sofa itu ketika menonton TV, lebih baik carikan yang lebih nyaman. Ketika pulang kerja, sofa sudah diantar ke rumah,namun tidak disusun di ruang keluarga tapi ditumpuk di ruang tamu. Saya menjadi heran,kemudian ibu manghampiri sambil marah-marah,katanya beliau tidak suka beli baru, yang lama masih bisa digunakan, lagipula, warnanya hitam dan terlalu besar. Pokoknya ibu tidak suka dan menyuruh saya mengembalikan sofa itu besok.

Saya memilih diam dan pergi. Bayangan kedua orang tua yang senang dengan suasana baru menjadi kesedihan.Mana lelah kerjaan hari itu sangat mudah menyulut emosi, kata-kata “kalau tidak suka buang atau bakar saja” sudah diubun-ubun.Saya juga tak ingin untuk bertengkar dengan ibu, tak ada pembenaran untuk amarah, lebih baik menghindar saja. Ketika pulang mandi pun malamnya saya keluar lagi tidak makan dirumah. Beberapa hari sofa itu tidak saya kembalikan, syukurlah sekarang sofa itu mulai digunakan.

Kasus ketiga, tadi pagi di bandara Pangkalpinang ketika tiba dari Palembang. Biasanya ketika mendarat, saya selalu menyalakan rokok di ruang pengambilan bagasi. Meski ada stiker dilarang merokok, namun ruangannya non-AC dan agak luas, dan rata-rata perokok juga selalu merokok di situ. Namun pagi tadi saya memilih untuk tidak merokok, lagipula penerbangan dari Palembang cukup singkat,tidak sampai 25 menit,beda dengan penerbangan dari Jakarta, jadi lebih baik merokok setelah keluar dari bandara saja. Sambil menunggu bagasi,tiba-tiba tercium bau asap di belakang saya. Rupanya ada yang membuang puntung rokok di tong sampah namun belum padam, dan membakar kertas/tisu didalamnya. Awalnya saya biarkan saja,toh tidak berbahaya kecuali ada yang menyimpan bom disana.

Namun makin lama asapnya tak kunjung hilang. Akhirnya saya putuskan untuk menyiram tempat sampah tersebut dengan air mineral gelas yang ada di dalam tas bawaan dan saya kembali menunggu bagasi keluar. Rupanya asapnya masih belum hilang,dan beberapa saat kemudian muncul seorang ibu petugas kebersihan bandara yang menekan isi kotak sampah dengan gagang kain pel sambil berteriak kepada saya “Hey pak, kalau merokok apinya matikan yang benar dong, lagipula disini ada tulisan dilarang merokok!”

Saya hanya membalas dengan senyum. Tak perlu pembelaan. Dan tak pernah ada pertengkaran…


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post